Detail Berita
Eco Product Belum Untungkan Produsen Furnitur
Jakarta - Penerapan eco product maupun eco lable (sertifikasi ramah lingkungan) yang diharapkan bisa menggenjot harga furnitur di pasar ekspor, dinilai belum menguntungkan para produsen di dalam negeri. Harapan-harapan adanya apresiasi harga yang lebih tinggi oleh pasar justru tidak sesuai dengan faktanya.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Permbelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono saat ditemui di sela-sela acara pameran IFFINA di JIExpo Kemayoran, Jkarta, Kamis (11/3/2010).
"Efeknya tidak terlalu, efek itu masih mimpilah," tegas Ambar.
Ia mengatakan selama ini lembaga-lembaga sertifikasi produk ramah lingkungan dalam negeri maupun asing menjanjikan adanya harga khusus atau premium price yang diberikan buyer (pembeli) atau pasar bagi produk yang tersertifikasi atau eco lable. Namun justru beberapa buyer menganggap eco lable berdampak harga yang tinggi.
"Bagi lembaga-lembaga sertifikasi tolong dong imbau juga para buyer, agar tidak memandang produk eco lable lebih mahal, jangan hanya kita saja yang disuruh eco lable," katanya.
Namun kata Ambar, masalah yang menjadi konsen Asmindo bukanlah soal serifikasi produknya namun yang penting adalah soal pelestarian hutan. Sertifikasi juga dipandang bisa memberikan keuntungan dari sisi pencitraan meski belum sampai pada keuntungan harga produk lebih tinggi.
Sebelumnya Menteri Perindustrian MS Hidayat berjanji akan mengusulkan pemberian insentif bagi produk-produk yang ramah lingkungan. Sehingga upaya untuk mendorong produk ramah lingkungan, tak terkecuali produk furnitur perlu didorong.
"Mulai tahun ini kita akan mendorong green dan eco product sebagai bagian yang dipikul Indonesia dalam memenangkan industri yang ramah lingkungan," katanya di tempat yang sama.
(sumber : detik.com)
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Permbelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono saat ditemui di sela-sela acara pameran IFFINA di JIExpo Kemayoran, Jkarta, Kamis (11/3/2010).
"Efeknya tidak terlalu, efek itu masih mimpilah," tegas Ambar.
Ia mengatakan selama ini lembaga-lembaga sertifikasi produk ramah lingkungan dalam negeri maupun asing menjanjikan adanya harga khusus atau premium price yang diberikan buyer (pembeli) atau pasar bagi produk yang tersertifikasi atau eco lable. Namun justru beberapa buyer menganggap eco lable berdampak harga yang tinggi.
"Bagi lembaga-lembaga sertifikasi tolong dong imbau juga para buyer, agar tidak memandang produk eco lable lebih mahal, jangan hanya kita saja yang disuruh eco lable," katanya.
Namun kata Ambar, masalah yang menjadi konsen Asmindo bukanlah soal serifikasi produknya namun yang penting adalah soal pelestarian hutan. Sertifikasi juga dipandang bisa memberikan keuntungan dari sisi pencitraan meski belum sampai pada keuntungan harga produk lebih tinggi.
Sebelumnya Menteri Perindustrian MS Hidayat berjanji akan mengusulkan pemberian insentif bagi produk-produk yang ramah lingkungan. Sehingga upaya untuk mendorong produk ramah lingkungan, tak terkecuali produk furnitur perlu didorong.
"Mulai tahun ini kita akan mendorong green dan eco product sebagai bagian yang dipikul Indonesia dalam memenangkan industri yang ramah lingkungan," katanya di tempat yang sama.
(sumber : detik.com)
